Nama lengkapnya adalah Keumalahayati, ia adalah panglima perang angkatan laut Kerajaan Aceh. Pejuang wanita ini hidup pada masa kerajaan Aceh yang saat itu diperintah oleh Baginda Sultan Alaiddin Riayat Syah Al Mukammil IV pada abad ke 16 – 17 tepatnya pada tahun 1589 hingga 1604. Ia juga dikenal sebagai panglima angkatan laut (laksamana) wanita pertama di dunia. Ia memang akrab dengan dunia militer Angkata laut karena Sang Ayah adalah juga seorang Laksamana yang bernama Mahmud Syah bin Laksamana Muhammad Said Syah. Dalam darah Malahayati juga mengalir kuat darah seorang kakek yang juga merupakan putra Sultan Salahuddin Syah dan pernah memimpin Aceh pada 1530-1539. Dimana Sultan Salahuddin Syah adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530 M), yang merupakan pendiri Kerajaan Aceh Darussalam. Jika dilihat dari silsilah maka dapat dipastikan bahwa ia termasuk dari keluarga darah biru atau keluarga bangsawan.
Dari beberapa catatan sejarah diketahui pada saat itu Kerajaan Aceh Darussalam telah memiliki Akademi Militer yang bernama Mahad Baitul Makdis yang dibentuk dan dibangun atas dukungan Penguasa Turki Utsmaniyah bernama Sultan Selim II. Kerajaan Turki memberikan bantuan berupa 100 pengajar / dosen untuk Akademi militer Kerajaan Aceh. Saat itu Malahayati yang masih remaja juga ikut menempuh pendidikan militer Kerajaan Aceh, sebelumnya ia juga pernah menempuh pendidikan agama setingkat pesantren di Meunasah. Ia memilih pendidikan akademi militer angkatan laut mengikuti jejak sang ayah yang pada saat itu adalah seorang Laksamana di angkatan laut Kerajaaan Aceh. Disini pula dirinya bertemu dengan seorang siswa akademi yang nanti akan menjadi suaminya. Sayangnya tidak ada catatan sejarah mengenai siapa nama suami Malahayati. Lulus dari akademi militer, Malahayati diangkat menjadi Komandan Protokol Istana Darud-Dunia Kerajaan Aceh Darussalam, begitu juga dengan suaminya yang diangkat menjadi Laksamana Angkatan Laut Kerajaan Aceh. Karir militer Malahayati semakin bagus karena kecerdasan dan kesigapannya, ia juga pernah menjabat sebagai pemimpin pasukan tentara wanita di Kerajaan Aceh.
Situasi Kerajaan Aceh pada masa itu sedang rawan dari gangguan dari armada pelaut asing dari Portugis dan Belanda. Sehingga Armada Angkatan laut Kerajaan Aceh harus memperketat keamanan wilayahnya. Suami Malahayati yang juga merupakan Laksamana Angkatan laut saat itu juga ikut bertugas menjaga keamanan kawasan laut Aceh. Dan pada saat bertugas di selat Malaka, armadanya terlibat pertempuran laut melawan kapal Portugis. Walau pertempuran itu berhasil dimenangkan armada Laut Kerajaan Aceh dan armada kapal portugis dapat dihancurkan tetapi dalam pertempuran itu suaminya ikut gugur bersama dengan kurang lebih 1000 prajurit lainnya. Malahayati tentu senang dengan kemenangan ini tetapi juga sekaligus merasa sedih karena telah kehilangan suami yang ia sayangi. Ia sangat marah pada para penjajah dan bersumpah akan meneruskan perjuangan suaminya yang telah gugur.
Untuk melaksanakan niatnya, ia meminta kepada Sultan Aceh untuk membentuk armada laut yang semua prajuritnya adalah para wanita. Tetapi bukan sembarang wanita karena wanita yang direkrut menjadi prajuritnya rata-rata adalah para janda yang suaminya telah gugur dalam pertempuran melawan penjajah. Melihat kesungguhan dan kemampuan Malahayati maka Sultan Aceh mengabulkan permintaannya, ia diberikan tugas sebagai panglima armada laut dan diangkat menjadi Laksamana. Yang sangat menarik adalah ia saat itu menjadi Laksamana wanita pertama di dunia.
Armada laut yang baru dibentuk tersebut diberi nama Armada Inong Balee (Armada Wanita janda) dengan mengambil Teluk Krueng Raya sebagai pangkalannya, atau nama lengkapnya Teluk Lamreh Krueng Raya. Di sekitar Teluk Krueng Raya itulah Malahayati membangun benteng Inong Balee yang letaknya di perbukitan yang tingginya sekitar 100 meter dari permukaan laut. Tembok yang menghadap laut lebarnya 3 meter dengan lubang-lubang meriam yang moncongnya mengarah ke pintu Teluk. Benteng yang dalam istilah Aceh disebut Kuta Inong Balee (Benteng Wanita Janda) tersebut, hingga sekarang masih dapat kita saksikan di Teluk Krueng Raya, dekat Pelabuhan Malahayati.
![]() |
| Benteng Inong Balee saat ini |
Armada Inong Balee ketika dibentuk hanya berkekuatan 1000 orang yang terdiri dari para janda tetapi kemudian Malahayati menambah jumlah prajuritnya menjadi 2000 orang. Tambahan prjurit wanita ini bukan direkrut dari para janda lagi, tetapi dari para gadis remaja yang ingin bergabung dengan pasukan Inong Balee.
Dari catatan seorang nahkoda kapal Belanda yang berkebangsaan Inggris yang pernah berkunjung ke Aceh, bernama John Davis terungkap bahwa pada masa kepemimpinan militer Laksamana Malahayati, Kesultanan Aceh sudah memiliki perlengkapan armada laut yang kuat dan tangguh. Armada laut ini terdiri dari 100 buah kapal (galey), di antaranya ada yang berkapasitas muatan sampai 400-500 penumpang. Di samping itu, Angkatan Darat Kerajaan Aceh juga memiliki pasukan gajah untuk mengawasi daerah kekuasaannya. Kerajaan Aceh menempatkan kapal-kapal perangnya di pelabuhan-pelabuhan yang berada di bawah kekuasaan atau di bawah pengaruhnya, misalnya Daya dan Pedir. Di antara kapal-kapal itu bahkan ada yang besarnya melebihi ukuran kapal-kapal yang dimiliki bangsa Eropa. Menurut catatan John Davis, Laksamana Malahayati merupakan sosok yang tegas dan sigap mengkoodinir pasukannya di laut serta mengawasi berbagai pelabuhan yang berada di bawah penguasaan syahbandar, serta secara seksama mengawasi kapal-kapal milik Kerajaan Aceh Darussalam.
Pada 21 Juni 1599, pasukan ekspedisi dari Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman tiba di pelabuhan kerajaan Aceh pada awalnya mereka disambut baik. tetapi sambutan baik ini tidak belangsung lama karena Cornelis de Houtman dan awaknya ternyata dikenal sebagai orang yang bertabiat kasar dan suka membuat masalah. Sebelum tiba di Aceh, ekspedisi ini malah telah membuat masalah di daerah lainnya seperti Banten dan Madura. Dan kali ini mereka membuat gara-gara dengan menyerbu pelabuhan Aceh. Alih-alih bisa menaklukan Aceh, armadanya malah hancur porak poranda melawan Armada Laut Inong Baleee. Dan Cornelis de Houtman sendiri tewas terbunuh dalam pertarungan satu lawan satu dengan Laksamana Malahayati di atas geladak kapal pada tanggal 11 September 1599. Banyak awak kapal Armada Belanda yang ditawan, termasuk adik Cornelis de Houtman yang bernama Frederich de Houtman yang ditawan dan dipenjara selama kurang lebih dua tahun.
Armada Inong Balee pimpinan Malahayati menjadi tembok terdepan Kerajaan Aceh melawan armada asing. Pada 21 November 1600 Armada Belanda dibawah pimpinan Paulus van Caerden datang ke pantai Aceh dan membuat masalah dengan menjarah dan menenggelamkan kapal-kapal Aceh yang penuh rempah-rempah. Di tahun berikutnya, bulan Juni, Malahayati berhasil menangkap Laksamana Belanda, Jacob van Neck, yang tengah berlayar di pantai Aceh. Setelah berbagai insiden pertempuran, Belanda mengirim surat diplomatik dan memohon maaf kepada Kesultanan Aceh melalui utusan Maurits van Oranjesent. Malahayati ternyata juga merupakan sosok negosiator ulung. Pada Agustus 1601, Malahayati memimpin Aceh untuk berunding dengan dua utusan Maurits van Oranjesent, Laksamana Laurens Bicker dan Gerard de Roy. Mereka sepakat melakukan gencatan senjata. Belanda juga harus membayar 50 ribu gulden sebagai kompensasi perusakan yang telah dilakukan oleh Van Caerden.
Kekuatan Armada Inong Balee Aceh dibawah pimpinan Malahayati sampai juga ke telinga Ratu Elizabeth, penguasa Inggris saat itu. Daripada harus berhadapan dengan Armada Inong Balee yang tangguh, Inggris memilih cara damai untuk melintas Selat Malaka. Pada Juni 1602, Ratu Elizabeth mengirimkan utusan bernama James Lancaster yang membawa surat kepada Sultan Aceh untuk meminta ijin agar membuka jalur pelayaran untuk Armada inggris yang akan berlayar menuju Pulau Jawa.
Perjuangan Malahayati tidak hanya sampai disitu, ia disebut masih memimpin pasukan Aceh menghadapi armada Portugis di bawah pimpinan Alfonso de Castro yang menyerbu Kreung Raya Aceh pada Juni 1606. Sejumlah sumber sejarah menyebutkan Laksamana Malahayati gugur dalam pertempuran melawan Portugis. Setelah gugur dalam pertempuran laut Teluk Krueng Raya, Laksamana Malahayati dimakamkan di lereng Bukit Kota Dalam, sebuah desa nelayan yang berjarak sekitar 34 kilometer dari Banda Aceh, yang jaraknya tidak jauh dari Benteng Inong Balee. Lokasi makam Laksamana Malahayati terletak di puncak bukit yang merupakan simbol salah satu bentuk penghormatan terhadap tokoh yang dimakamkan. Penempatan makam di puncak bukit kemungkinan dikaitkan dengan anggapan bahwa tempat yang tinggi itu merupakan tempat yang suci. Karena perjuangannya melawan dan mengusir penjajah, nama Laksamana Malahayati menjadi legenda dan dikenang serta diabadikan untuk nama jalan, nama rumah sakit, nama pelabuhan, nama universitas di Sumatera, hingga nama kapal perang TNI Angkatan Laut-pun ada yang menggunakan nama Malahayati.
![]() |
| Pelabuhan Malahayati di Krueng Aceh |
Sejarah telah mencatat beberapa pelaut wanita yang hebat di dunia ini, dan nama Laksamana Malahayati adalah salah satu diantaranya. Walau tidak banyak catatan sejarah mengenai dirinya tetapi namanya telah tercatat dalam sejarah Indonesia dengan tinta emas.
- Disadur dari berbagai sumber






0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar yang berhubungan dengan isi konten.