Post Terbaru

Mahatma Gandhi

Dilahirkan dengan nama Mohandas Karamchand Gandhi, tetapi ia lebih dikenal sebagai 'Mahatma' (yang berarti 'Jiwa Besar') lahir di Porbandar, Gujarat, di North West India, pada tanggal 2 Oktober 1869 dalam sebuah keluarga Hindu Modh. Ayahnya adalah salah satu pejabat di pemerintahan India sebagai Ketua Menteri Porbandar, dan dibawah asuhan ibunya yang sangat religius ia dikenalkan ajaran damai saling toleransi, tidak mencederai makhluk hidup dan hidup sebagai vegetarian.

Biografi Mahatma Gandhi


Lahir dari kalangan kasta istimewa, Gandhi beruntung bisa mendapatkan pendidikan yang komprehensif. Pada bulan Mei 1883, saat berusia 13 tahun Gandhi menikah dengan Kasturba Makhanji, seorang gadis yang juga berusia 13. Pernikahan ini merupakan perjodohan yang diatur orang tua masing-masing, sesuai adat budaya India saat itu. Bersama dengan Kasturba, Gandhi memiliki 4 orang anak yaitu Harilal, Manilal, Ramdas, dan Devdas.

Gandhi bukanlah siswa yang unggul. Gandhi hanya tercatat sebagai siswa yang pandai berbahasa Inggris dan pandai memimpin. Gandhi lolos ujian dengan kerja keras dan kemudian ia melanjutkan pendidikan si Samaldas College University of Bombay. Sayangnya ia tidak merasa senang melanjutkan pendidikan di kampus ini, ia berhenti dalam sepuluh hari pertama belajar di Samaldas College. Kakak sulungnya dan salah seorang teman keluarganya menyarankan Gandhi untuk melanjutkan studi ke Inggris untuk belajar hukum dan menjadi seorang pengacara. Gandhi merasa senang dengan hal itu karena ini adalah kesempatan besar baginya untuk melihat dunia. Ia berlayar ke Inggris September 1888 dan sejak itu Gandhi menempuh sekolah ilmu hukum di University College London.

Di London awalnya ia agak sulit menyesuaikan kehidupannya, karena ia bertekad untuk mematuhi prinsip-prinsip Agama Hindu yang diajarkan oleh ibunya, termasuk menjadi vegetarian serta pantangan alkohol dan pantangan seks bebas, tetapi setelah ia menemukan komunitas yang sama dengan dirinya ia mulai berkembang, dan mempelajari studi filsafat agama, termasuk Hindu, Kristen, Budha dan lain-lain, ia mengaku tidak ada kepentingan tertentu dalam agama. Setelah selesai dari sekolah hukum di London ia sempat kembali ke India, tetapi ia tidak menemukan pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya. Akhirnya pada tahun 1893, ia menerima kontrak kerja satu tahun untuk bekerja pada perusahaan India yang berada di Natal, Afrika Selatan.

Meski belum dimasukan dalam sistem hukum saat itu, sistem 'apartheid' berlaku di banyak tempat di Afrika Selatan pada pergantian abad ke-20. Gandhi sebenarnya hanya memiliki kontrak satu tahun, tetapi ia menghabiskan 21 tahun tinggal di Afrika Selatan. Ia sering mengecam ketidakadilan rasialis yang terjadi di sana. Pada suatu saat saat ia pernah naik kereta dengan membeli tiket kelas satu, tetapi petugas tiket menegur dan menyuruhnya untuk pindah kelas, karena gerbong kelas satu hanya dikhususkan untuk penumpang kulit putih. Gandhi saat itu  menolak untuk pindah kelas dan akhirnya ia dipaksa turun di stasiun terdekat. Gandhi banyak mendapatkan perlakuan buruk rasisme di sana. Kehidupan di Afrika Selatan mengajari Gandhi banyak hal mengenai diskriminasi. Gandhi belajar untuk berlapang dada atas nama bangsa. Selain itu,  Gandhi percaya bahwa dia mampu membangun jembatan penghubung bagi masyarakat yang berbeda sejarah dan juga agama.

Ia mendirikan sebuah gerakan politik, yang dikenal sebagai Kongres India Natal, dan mengembangkan keyakinan teori protes tanpa menggunakan kekerasan. Hal inilah yang menjadi sikap politiknya secara nyata, ketika ia menentang pendaftaran untuk semua orang India, di Afrika Selatan, dengan tidak berkerjasama dengan otoritas sipil yang relevan saat itu. Sikap politiknya ini membuat Gandhi diserang pada tahun 1897 oleh para demonstran berkulit putih. Kemudian, pada tahun 11 September 196, Gandhi menggelar demonstrasi Satyagraha (devotion to the truth) dimana gandhi memprakarsai demonstrasi tanpa kekerasan. Semenjak itu, konsep Satyagraha dikenal luas dan banyak diadopsi oleh banyak bangsa.

Pada tahun 1916 ia kembali ke India, Gandhi mengembangkan lebih jauh lagi praktek ketidaktaatan sipil tanpa kekerasan, meningkatkan perlawanan terhadap praktik  penindasan di Bihar, pada tahun 1918, dimana penduduk setempat mengalami penindasan yang sebagian besar dilakukan oleh tuan tanah dari British. Dia juga mendorong warga tertindas untuk meningkatkan kehidupan mereka sendiri, memimpin protes dan pemogokan secara damai. Ia makin terkenal dan mendapat sebutan 'Mahatma' yang berarti  'Jiwa Besar'.

Seiring namanya yang makin terkenal maka pengaruh politiknya juga makin meningkat, pada tahun 1921 ia memimpin Kongres Nasional India, dan melakukan reorganisasi konstitusi partai dengan prinsip 'Swaraj', atau kemerdekaan politik seutuhnya dari Inggris. Dia juga menghasut untuk mealkukan boikot terhadap barang dan lembaga Inggris, dan hal ini menyebabkan pembangkangan sipil secara massal, sehingga Gandhi ditangkap pada tanggal 10 Maret 1922, dan pengadilan menjatuhkan tuduhan penghasutan, yang membuat ia harus di hukum penjara selama 6 tahun, tetapi ia dibebaskan dan hanya menjalani masa tahanannya selama 2 tahun.  Kongres Nasional India mengalami perpecahan selama penahanannya, tetapi ia tetap menjadi perhatian publik menyusul pembebasannya dari penjara pada bulan Februari tahun 1924.

Empat tahun kemudian, pada tahun 1928, ia mengkampanyekan pemberian status dominion untuk India. Dan ketika Inggris memberlakukan pajak atas garam pada tahun 1930, ia memimpin 250 mil jalan kaki ke laut (Salt March) yang terkenal itu untuk mengumpulkan garam sendiri. Pengaruh politik semakin besar secara nasional, dan pemerintah Inggris terpaksa bernegosiasi berbagai hal dengan Gandhi selama tahun-tahun berikutnya, seperti perbaikan pemuiman, pengentasan kemiskinan, diberikan status "untouchable", hak perlakuakn baik untuk perempuan. Hal ini berhasil mengantarkan India pada kemerdekaan mereka pada tanggal 26 Januari 1930. Walaupun begitu, Inggris masih memiliki kuasa dalam pemerintahan India.

Gandhi mengalami paling tidak enam usaha pembunuhan selama hidupnya. Usaha pertama pada tanggal 25 Juni 1934, ketika ia berada di Pune untuk menyampaikan pidato, bersama dengan istrinya, Kasturba. Bepergian dalam iring-iringan dua mobil, mereka berada di mobil kedua yang tertunda karena terhalang oleh kereta api yang lewat di perlintasan kereta api. Hal ini menyebabkan mobil pertama dan kedua terpisah jarak. Ketika kendaraan pertama tiba di tempat pidato, bom dilemparkan ke mobil pertama yang meledak dan melukai beberapa orang. Tidak ada investigasi dilakukan pada saat itu, dan tidak ada penangkapan yang dilakukan. Meskipun banyak tuduhan yang ditujukan pada Nathuram Godse, seorang fundamentalis Hindu yang menentang prinsip Gandhin tentang non-kekerasan dan toleransi pada semua agama. Ia merasa supremasi Agama Hindu terganggu dengan prinsip yang dimiliki oleh Gandhi. Godse adalah orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan Gandhi pada Januari 1948, 14 tahun kemudian.

Selama permulaan Perang Dunia Kedua, Gandhi tidak melihat alasan mengapa India harus berjuang untuk kedaulatan Inggris, di bagian lain dunia, ketika mereka sendiri mengalami penindasan di negrinya sendiri.  Hal ini menyebabkan pemberontakan sipil terburuk di bawah arahannya, melalui gerakan 'Quit India'. Akibatnya, ia ditangkap pada 9 Agustus 1942, dan dipenjara selama dua tahun di Aga Khan Palace di Pune. Pada bulan Februari tahun 1944, 3 bulan sebelum dibebaskan, istrinya Kasturba meninggal di penjara yang sama.

Mei 1944, saat dibebaskan dari penjara, diketahui ada upaya pembunuhan kedua kepada Ghandi. Upaya pembunuhan ini  dilakukan oleh Nathuram Godse, meskipun upaya ini terlihat tidak terencana dengan baik. Suatu ketika Gandhi mengadakan upacara doa bersama untuk pemulihannya setelah keluar dari penjara. Ketika itu Godse diundang untuk berbicara dengan Gandhi, Godse menolaknya, tapi ia tetap menghadiri pertemuan doa hari itu, di mana ia bergegas menuju ke arah Gandhi sambil mengacungkan belati dan berteriak slogan anti-Gandhi. Ia segera ditangkap dengan cepat oleh sesama jamaah sebelum mencapai dimana Gandhi berada. Godse tidak dituntut pada saat itu.

Empat bulan kemudian, pada bulan September tahun 1944, Godse memimpin sekelompok demonstran aktivis Hindu yang menemui Gandhi di sebuah stasiun kereta api, sekembalinya Gandhi dari pembicaraan politik. Godse diketahui membawa sebuah keris yang meskipun tidak dikeluarkan, diasumsikan akan digunakannya sebagai sarana untuk membunuh Gandhi. Secara resmi hal ini dianggap sebagai upaya pembunuhan ketiga oleh komisi resmi yang dibentuk untuk menyelidiki kematian Gandhi pada tahun 1948.

Sebelumnya kondisi politik India pada tahun 40-an sedang terancam oleh perpecahan. Muslim League yang bersekutu dengan pemerintahan Inggris menginginkan wilayah terpisah atas kaum Hindu. Dan Inggris yang masih berkuasa memiliki rencana untuk membagi India untuk kaum Hindu dan Pakistan untuk kaum Islam. Hal ini ditentang keras oleh Gandhi, yang menkhawatirkan akan timbulnya berbagai masalah bila terjadi perpecahan. Namun demikian, Partai Kongres India mengabaikan kekhawatiran ini, dan menerima proposal pemisahan yang diajukan oleh Inggris. Sehingga pada Agustus 1947, Inggris membagi dua wilayah ini bagi  kaum Hindu dan Muslim.
Pemisahan wilayah antara kaum Hindu dan Islam membuat banyak peristiwa mengerikan dalam sejarah India. Peristiwa yang sampai sekarang masih sering terjadi adalah kejahatan genosida dan perang antar kedua agama tersebut.

Upaya keempat untuk mengakhiri Gandhi dilakukan dengan cara sabotase rel kereta api yang akan dilewati Gandhi. Pada tanggal 29 Juni 1946, kereta yang disebut 'Gandhi Special' yang membawa Gandhi dan rombongannya tergelincir di dekat Bombay, setelah diselidiki ternyata penyebab kereta api tergelincir adalah batu-batu yang menumpuk di atas rel. Karena kereta ini adalah satu-satunya yang dijadwalkan pada waktu itu, ada kemungkinan bahwa sasaran sabotase rel kereta api ini adalah Gandhi. Ia tidak terluka dalam kecelakaan itu. Pada pertemuan doa bersama, setelah acara selesai Gandhi mengatakan:

"Saya belum pernah menyakiti siapa pun dan tidak pernah menganggap siapa pun menjadi musuh saya, saya tidak mengerti mengapa ada begitu banyak upaya pembunuhan pada diri saya. Upaya pembunuhan kemarin pada hidup saya telah gagal. Saya tidak akan mati dulu, Saya bertujuan untuk hidup sampai usia 125. "

Sayangnya, ia hanya memiliki waktu sekitar delapan belas bulan lagi.

Dibawah tekanan yang makin meningkat, oleh partai politiknya sendiri untuk menerima pemisahan sebagai satu-satunya cara untuk menghindari perang saudara di India. Gandhi tetap tak sependapat, ia tetap dengan pendiriannya perlunya persatuan politik , Gandhi menghabiskan beberapa bulan ke depan bekerja tanpa lelah untuk perdamaian Hindu-Muslim. Sayang, usahanya untuk menyatukan dua kekuatan yang berlawanan terbukti gagal.

Pada 20 Januari 1948 sekitar tujuh radikal Hindu termasuk Nathuram Godse, memperoleh akses ke Birla House di Delhi, tempat di mana Gandhi akan mengadakan konferensi. Salah satu radikal Hindu, Madanla Pahwa, berhasil mendapatkan akses ke podium pembicara, dan menanam sebuah bom, terbungkus dalam bola kapas, di dinding belakang podium. Rencananya adalah untuk meledakan bom pada saat konferensi dimulai, bom ini direncanakan akan menyebabkan kekacauan, yang akan memberikan kesempatan kepada Digambar Bagde dan Shankar Kishtaiyya untuk menembak Gandhi. Tetapi ternyata bom itu meledak sebelum waktunya, sebelum konferensi itu berlangsung. Karena kejadian itu Madanla Pahwa ditangkap, sementara yang lain, termasuk Godse, berhasil melarikan diri.

Pahwa mengakui rencana ini saat diinterogasi, namun polisi Delhi tidak dapat mengkonfirmasi partisipasi dan keberadaan Godse, meskipun begitu Kepolisian Bombay terus mencoba untuk memastikan keberadaannya.

Setelah usaha yang gagal di Birla House, Nathuram Godse dan salah satu anggotanya Narayan Apte, kembali ke Pune, melalui Bombay, di mana mereka membeli pistol otomatis Beretta, sebelum akhirnya segera kembali lagi ke Delhi.

Pada tanggal 30 Januari 1948 sementara Gandhi sedang dalam perjalanan ke sebuah pertemuan doa di Birla House Delhi, Nathuram Godse berhasil mendekati Ghandi dalam kerumunan. Kesempatan ini ia gunakan untuk menembak Gandhi tiga kali di dada, dalam jarak dekat. Sebagian orang mendengar kata-kata Gandhi menjelang kematiannya "He Ram", yang berarti "Oh Tuhan", meskipun beberapa saksi yang mengaku melihat Gandhi saat itu mengatakan tidak ada kata-kata sama sekali menjelang kematiannya.

Ketika berita kematian Gandhi terdengar oleh berbagai kelompok radikalisme Hindu, di Pune dan daerah lainnya di seluruh India, konon mereka bersorak dan merayakan di jalan-jalan. Permen dibagikan, seperti pada sebuah acara festival. Sedangkan pada saat yang bersamaan di belahan dunia lain merasa terkejut dan sedih dengan kematian seorang pria yang dinominasikan lima kali untuk Hadiah Nobel Perdamaian.

Setelah melakukan pembunuhan, Godse tidak berusaha untuk melarikan diri.  Dia dan rekan konspiratornya, Narayan Apte, ditangkap dan dipenjara sampai sidang mereka pada 8 November 1949. Mereka dihukum karena pembunuhan Gandhi, dan keduanya dieksekusi mati seminggu kemudian di Ambala Jail pada 15 November 1949.  Seorang ekstremis Hindu bernama Vinayak Damodar Savarkar yang juga ditangkap karena kejadian itu dibebaskan karena kurangnya bukti.

Kehidupan dan ajaran Gandhi telah menginspirasi banyak liberasionis dari abad ke-20, diantaranya termasuk Dr Martin Luther King di Amerika Serikat, Nelson Mandela dan Steve Biko di Afrika Selatan, dan Aung San Suu Kyi di Myanmar. Hari ulang tahunnya, 2 Oktober diperingati sebagai hari libur nasional India setiap tahun.


Fakta lain tentang Mahatma Gandhi

1. Gandhi mungkin akan dikenang sebagai pemimpin yang berani saat pergerakan kemerdekaan India. Namun ketika kecil, dia adalah orang yang sangat pemalu dan introvert. Bahkan, ia sering melarikan diri dari sekolahnya karena merasa malu untuk berbicara dengan orang lain. Dia tidak menyukai berbicara di depan umum dan difoto. Pada tahun 1931, ketika ia harus berbicara di acara siaran radio saat berkunjung ke Amerika Serikat, hal pertama yang ia katakan adalah "Apakah saya harus berbicara ke benda ini?"

2. Gandhi menikah dengan Kasturba Makhanji berkat perjodohan oleh orang tua mereka. Saat itu ia berusia 13 tahun. Mereka memiliki anak pertama mereka ketika Gandhi berusia 15 tahun. Namun, anak ini tidak bertahan hidup lama meninggal setelah beberapa hari dilahirkan. Kasturba  dan Gandhi akhirnya memiliki empat anak, Harilal, Manilal, Ramdas dan Devdas. Harilal, putra sulungnya (yang bertahan hidup) lahir pada tahun 1888, ketika Gandhi berusia 19 tahun. Harilal pernah beralih ke agama Islam tetapi kemudian dikembalikan kembali ke agama Hindu.

3. Gandhi menerima pendidikan hukum di University College London, Inggris. Gandhi bersumpah kepada ibunya untuk tidak menyentuh daging dan alkohol dan menghindari pergaulan bebas dan dia memenuhi janjinya. Namun, dia juga berusaha beradaptasi untuk mengadopsi budaya Inggris pada awal mula ia tinggal di sana dengan mengambil pelajaran biola dan tari, mengenakan topi dan pakaian sutra, dan bahkan belajar bahasa Prancis. Di sanalah ia bergabung dengan London Vegetarian Society dan berkenalan dengan penulis seperti Leo Tolstoy dan Henry David Thoreau.

4. Gandhi menganggap berjalan sebagai "pangeran" dari segala olahraga. Dia memulai kebiasaan berjalan ketika muda dan biasa berjalan delapan sampai sepuluh mil setiap hari selama belajar hukum di London. Dunia pun terkejut ketika ia, bersama dengan banyak pejuang kemerdekaan India lainnya, berjalan 250 mil dari Sabarmati Ashram ke Dandi. Dikenal sebagai Salt March atau Dandi March, saat itu ia berusia 60 tahun.

5. Gandhi dikremasi sesuai adat Agama Hindu, dan abunya dikuburkan di Aga Khan Palace di Pune, tempat penahanannya pada tahun 1942, dan tempat istrinya meninggal.

6. Monumen memorial Gandhi memiliki prasasti dengan tulisan "He Ram". Meskipun tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa ia mengucapkan kata-kata ini sebelum kematian.

7. Meskipun Gandhi dinominasikan untuk Hadiah Nobel Perdamaian lima kali, ia tidak pernah menerimanya. Pada tahun kematiannya, 1948, Hadiah Nobel Perdamaian tidak diberikan kepada siapapun, alasannya adalah bahwa "tidak ada calon hidup yang cocok" pada tahun itu.

    Berbagai Sumber Internet

    Jenderal M. Jusuf Prajurit Sejati

    Jendral M. Jusuf (baca : Yusuf) adalah seorang tokoh militer dan prajurit sejati yang sangat berpengaruh di Indonesia. Nama lengkapnya adalah Andi Muhammad Jusuf Amir seorang Bugis yang lahir di Kajuara, Bone, Sulawesi Selatan. Bila dilihat dari nama beliau (Andi) maka bisa diketahui bahwa ia memiliki darah bangsawan, tetapi ia melepaskan gelar kebangsawanannya itu pada tahun 1957 dan tidak pernah menggunakannya lagi.

    http://www.iwansetiawan.com/2016/05/jenderal-jusuf-prajurit-sejati.html


    Jendral M Jusuf dikenal sebagai seorang prajurit pejuang yang berani, tegas, dan bersih. Niat kuatnya untuk berjuang membela tanah air dimulai ketika Soekarno dan Hatta memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Saat itu M. Jusuf masih berusia kurang lebih 17 tahun, ia berlayar menuju Pulau Jawa dengan niat ikut bergabung dengan pemuda pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Saat itu M. Jusuf muda ditampung oleh Kahar Muzakar dalam laskar Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS).

    Karir militernya dimulai sebagai prajurit Angkatan Laut, yaitu sebagai ajudan Letnan Kolonel Kahar Muzakkar di Angkatan Laut Republik Indonesia Pangkalan X Yogyakarta. Dan pada 1949, M. Jusuf beralih ke Angkatan Darat, ia pernah menjadi bagian dari anggota Polisi Militer saat berpangkat Kapten. Dan pada tahun 1950, M. Jusuf menjadi ajudan Kolonel Alex Kawilarang, Panglima Komando Tentara dan Territorium VII/Indonesia Timur (TTIT) (sekarang KODAM VII/Wirabuana). Saat itu ia ikut memadamkan pemberontakan yang dilakukan oleh Republik Maluku Selatan (RMS). M. Jusuf kemudian melanjutkan karier militernya hingga mencapai puncak tertinggi sebagai prajurit Angkatan Darat dengan pangkat Jendral, Ia juga pernah menjabat sebagai Menhankam/PANGAB dalam Kabinet Pembangunan III di masa Pemerintahan Soeharto.

    Saat Pemerintahan Orde Baru, M. Jusuf dikenal dekat dengan Presiden Soeharto. Ia banyak melakukan perubahan-perubahan mendasar atas wajah militer Indonesia, terutama TNI Angkatan Darat. Pada masa beliau, militer aktif melakukan konsolidasi, penguatan ideologisasi dwi fungsi ABRI, sekaligus penataan struktur militer. Saat menjadi Panglima ABRI, M. Jusuf juga dikenal sangat dekat dengan para prajurit. Dia berkeliling Indonesia untuk menemui para prajurit di barak-barak. Dengan hangat dia menyapa keluarga prajurit. Dia membangun asrama, memperbaiki fasilitas yang rusak, memberikan bantuan dan dengan sikap kebapakan mendengarkan curhat para prajurit. M. Jusuf banyak menghabiskan waktu di antara para prajuritnya. Nyaris tidak pernah duduk di meja kerja. Karena itu dia menjadi sangat populer. Tak hanya di kalangan prajurit, namun juga di mata rakyat. Saat itu TVRI yang menjadi satu-satunya stasiun TV selalu menayangkan kunjungan kerja Jenderal M. Jusuf.

    Karena kepopulerannya itu banyak orang yang menyangka ia akan dipasangkan jadi wakil presiden atau bahkan menjadi presiden menggantikan Soeharto. Tapi sayangnya takdir berkata lain, Ia tidak menjadi wakil presiden ataupun presiden, setelah memangku jabatan tertinggi di militer ia digantikan oleh Jendral L.B. Moerdani. Beliau kemudian ditempatkan sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (waktu itu disebut Bapeka) yang merupakan dunia kerja yang sangat berbeda dengan dunia kerja sebelumnya. Setelah selesai dengan tugasnya di Bapeka, M. Jusuf memilih pulang ke Makassar mengurusi kegiatan sosial, mengurus rumah sakit dan fokus pada masalah ibadah.

    Jendral M. Jusuf meninggal pada tanggal 8 September 2004 di Makassar. Kini, Jenderal yang tegas dan jujur ini telah terbaring tenang. Kepergian jenderal dari Sulawesi Selatan ini, tentu amat berbekas bagi bangsa Indonesia karena beliau telah memberikan contoh pemimpin yang selalu memperhatikan nilai kejujuran, kebenaran dan kerendahan hati serta selalu memperhatikan orang-orang yang berada di bawahnya.

    Laksamana Malahayati Pejuang Wanita Dari Aceh

    Mungkin banyak yang belum mengetahui siapa Laksamana Malahayati. Namanya memang tidak setenar Cut Nya' Dien atau Cut Nya' Meutia. Karena tidak banyak catatan sejarah mengenai pejuang wanita dari Aceh yang tangguh ini. Tetapi kiprah Malahayati sebagai pejuang melawan penjajahan dan menjaga kedaulatan negara tidak kalah menarik untuk diketahui dan dipelajari.

    Laksamana Malahayati

    Nama lengkapnya adalah Keumalahayati, ia adalah panglima perang angkatan laut Kerajaan Aceh. Pejuang wanita ini hidup pada masa kerajaan Aceh yang saat itu diperintah oleh Baginda Sultan Alaiddin Riayat Syah Al Mukammil IV pada abad ke 16 – 17 tepatnya pada tahun 1589 hingga 1604. Ia juga dikenal sebagai panglima angkatan laut (laksamana) wanita pertama di dunia. Ia memang akrab dengan dunia militer Angkata laut karena Sang Ayah adalah juga seorang Laksamana yang bernama Mahmud Syah bin Laksamana Muhammad Said Syah. Dalam darah Malahayati juga mengalir kuat darah seorang kakek yang juga merupakan putra Sultan Salahuddin Syah dan pernah memimpin Aceh pada 1530-1539. Dimana Sultan Salahuddin Syah adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530 M), yang merupakan pendiri Kerajaan Aceh Darussalam. Jika dilihat dari silsilah maka dapat dipastikan bahwa ia termasuk dari keluarga darah biru atau keluarga bangsawan.

    Dari beberapa catatan sejarah diketahui pada saat itu Kerajaan Aceh Darussalam telah memiliki Akademi Militer yang bernama Mahad Baitul Makdis yang dibentuk dan dibangun atas dukungan Penguasa Turki Utsmaniyah bernama Sultan Selim II. Kerajaan Turki memberikan bantuan berupa 100 pengajar / dosen untuk Akademi militer Kerajaan Aceh. Saat itu Malahayati yang masih remaja juga ikut menempuh pendidikan militer Kerajaan Aceh, sebelumnya ia juga pernah menempuh pendidikan agama setingkat pesantren di Meunasah. Ia memilih pendidikan akademi militer angkatan laut mengikuti jejak sang ayah yang pada saat itu adalah seorang Laksamana di angkatan laut Kerajaaan Aceh. Disini pula dirinya bertemu dengan seorang siswa akademi yang nanti akan menjadi suaminya. Sayangnya tidak ada catatan sejarah mengenai siapa nama suami Malahayati. Lulus dari akademi militer, Malahayati diangkat menjadi Komandan Protokol Istana Darud-Dunia Kerajaan Aceh Darussalam, begitu juga dengan suaminya yang diangkat menjadi Laksamana Angkatan Laut Kerajaan Aceh. Karir militer Malahayati semakin bagus karena kecerdasan dan kesigapannya, ia juga pernah menjabat sebagai pemimpin pasukan tentara wanita di Kerajaan Aceh.

    Situasi Kerajaan Aceh pada masa itu sedang rawan dari gangguan dari armada pelaut asing dari Portugis dan Belanda. Sehingga Armada Angkatan laut Kerajaan Aceh harus memperketat keamanan wilayahnya. Suami Malahayati yang juga merupakan Laksamana Angkatan laut saat itu juga ikut bertugas menjaga keamanan kawasan laut Aceh. Dan pada saat bertugas di selat Malaka, armadanya terlibat pertempuran laut melawan kapal Portugis. Walau pertempuran itu berhasil dimenangkan armada Laut Kerajaan Aceh dan armada kapal portugis dapat dihancurkan tetapi dalam pertempuran itu suaminya ikut gugur bersama dengan kurang lebih 1000 prajurit lainnya. Malahayati tentu senang dengan kemenangan ini tetapi juga sekaligus merasa sedih karena telah kehilangan suami yang ia sayangi. Ia sangat marah pada para penjajah dan bersumpah akan meneruskan perjuangan suaminya yang telah gugur.

    Untuk melaksanakan niatnya, ia meminta kepada Sultan Aceh untuk membentuk armada laut yang semua prajuritnya adalah para wanita. Tetapi bukan sembarang wanita karena wanita yang direkrut menjadi prajuritnya rata-rata adalah para janda yang suaminya telah gugur dalam pertempuran melawan penjajah. Melihat kesungguhan dan kemampuan Malahayati maka Sultan Aceh mengabulkan permintaannya, ia diberikan tugas sebagai panglima armada laut dan diangkat menjadi Laksamana. Yang sangat menarik adalah ia saat itu menjadi Laksamana wanita pertama di dunia.

    Armada laut yang baru dibentuk tersebut diberi nama Armada Inong Balee (Armada Wanita janda) dengan mengambil Teluk Krueng Raya sebagai pangkalannya, atau nama lengkapnya Teluk Lamreh Krueng Raya. Di sekitar Teluk Krueng Raya itulah Malahayati membangun benteng Inong Balee yang letaknya di perbukitan yang tingginya sekitar 100 meter dari permukaan laut. Tembok yang menghadap laut lebarnya 3 meter dengan lubang-lubang meriam yang moncongnya mengarah ke pintu Teluk. Benteng yang dalam istilah Aceh disebut Kuta Inong Balee (Benteng Wanita Janda) tersebut, hingga sekarang masih dapat kita saksikan di Teluk Krueng Raya, dekat Pelabuhan Malahayati.

    Benteng Inong Balee saat ini

    Armada Inong Balee ketika dibentuk hanya berkekuatan 1000 orang yang terdiri dari para janda tetapi kemudian Malahayati menambah jumlah prajuritnya menjadi 2000 orang. Tambahan prjurit wanita ini bukan direkrut dari para janda lagi, tetapi dari para gadis remaja yang ingin bergabung dengan pasukan Inong Balee.

    Dari catatan seorang nahkoda kapal Belanda yang berkebangsaan Inggris yang pernah berkunjung ke Aceh, bernama John Davis terungkap bahwa pada masa kepemimpinan militer Laksamana Malahayati, Kesultanan Aceh sudah memiliki perlengkapan armada laut yang kuat dan tangguh. Armada laut ini terdiri dari 100 buah kapal (galey), di antaranya ada yang berkapasitas muatan sampai 400-500 penumpang. Di samping itu, Angkatan Darat Kerajaan Aceh juga memiliki pasukan gajah untuk mengawasi daerah kekuasaannya. Kerajaan Aceh menempatkan kapal-kapal perangnya di pelabuhan-pelabuhan yang berada di bawah kekuasaan atau di bawah pengaruhnya, misalnya Daya dan Pedir. Di antara kapal-kapal itu bahkan ada yang besarnya melebihi ukuran kapal-kapal yang dimiliki bangsa Eropa. Menurut catatan John Davis, Laksamana Malahayati merupakan sosok yang tegas dan sigap mengkoodinir pasukannya di laut serta mengawasi berbagai pelabuhan yang berada di bawah penguasaan syahbandar, serta secara seksama mengawasi kapal-kapal milik Kerajaan Aceh Darussalam.

    Pada 21 Juni 1599, pasukan ekspedisi dari Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman tiba di pelabuhan kerajaan Aceh pada awalnya mereka disambut baik. tetapi sambutan baik ini tidak belangsung lama karena Cornelis de Houtman dan awaknya ternyata dikenal sebagai orang yang bertabiat kasar dan suka membuat masalah. Sebelum tiba di Aceh, ekspedisi ini malah telah membuat masalah di daerah lainnya seperti Banten dan Madura. Dan kali ini mereka membuat gara-gara dengan menyerbu pelabuhan Aceh. Alih-alih bisa menaklukan Aceh, armadanya malah hancur porak poranda melawan Armada Laut Inong Baleee. Dan Cornelis de Houtman sendiri tewas terbunuh dalam pertarungan satu lawan satu dengan Laksamana Malahayati di atas geladak kapal pada tanggal 11 September 1599. Banyak awak kapal Armada Belanda yang ditawan, termasuk adik Cornelis de Houtman yang bernama Frederich de Houtman yang ditawan dan dipenjara selama kurang lebih dua tahun.

    Armada Inong Balee pimpinan Malahayati menjadi tembok terdepan Kerajaan Aceh melawan armada asing. Pada 21 November 1600 Armada Belanda dibawah pimpinan Paulus van Caerden datang ke pantai Aceh dan membuat masalah dengan menjarah dan menenggelamkan kapal-kapal Aceh yang penuh rempah-rempah. Di tahun berikutnya, bulan Juni, Malahayati berhasil menangkap Laksamana Belanda, Jacob van Neck, yang tengah berlayar di pantai Aceh. Setelah berbagai insiden pertempuran, Belanda mengirim surat diplomatik dan memohon maaf kepada Kesultanan Aceh melalui utusan Maurits van Oranjesent. Malahayati ternyata juga merupakan sosok negosiator ulung. Pada Agustus 1601, Malahayati memimpin Aceh untuk berunding dengan dua utusan Maurits van Oranjesent, Laksamana Laurens Bicker dan Gerard de Roy. Mereka sepakat melakukan gencatan senjata. Belanda juga harus membayar 50 ribu gulden sebagai kompensasi perusakan yang telah dilakukan oleh Van Caerden.

    Kekuatan Armada Inong Balee Aceh dibawah pimpinan Malahayati sampai juga ke telinga Ratu Elizabeth, penguasa Inggris saat itu. Daripada harus berhadapan dengan Armada Inong Balee yang tangguh, Inggris memilih cara damai untuk melintas Selat Malaka. Pada Juni 1602, Ratu Elizabeth mengirimkan utusan bernama James Lancaster yang membawa surat kepada Sultan Aceh untuk meminta ijin agar membuka jalur pelayaran untuk Armada inggris yang akan berlayar menuju Pulau Jawa.

    Perjuangan Malahayati tidak hanya sampai disitu, ia disebut masih memimpin pasukan Aceh menghadapi armada Portugis di bawah pimpinan Alfonso de Castro yang menyerbu Kreung Raya Aceh pada Juni 1606. Sejumlah sumber sejarah menyebutkan Laksamana Malahayati gugur dalam pertempuran melawan Portugis. Setelah gugur dalam pertempuran laut Teluk Krueng Raya, Laksamana Malahayati dimakamkan di lereng Bukit Kota Dalam, sebuah desa nelayan yang berjarak sekitar 34 kilometer dari Banda Aceh, yang jaraknya tidak jauh dari Benteng Inong Balee. Lokasi makam Laksamana Malahayati terletak di puncak bukit yang merupakan simbol salah satu bentuk penghormatan terhadap tokoh yang dimakamkan. Penempatan makam di puncak bukit kemungkinan dikaitkan dengan anggapan bahwa tempat yang tinggi itu merupakan tempat yang suci. Karena perjuangannya melawan dan mengusir penjajah, nama Laksamana Malahayati menjadi legenda dan dikenang serta diabadikan untuk nama jalan, nama rumah sakit, nama pelabuhan, nama universitas di Sumatera, hingga nama kapal perang TNI Angkatan Laut-pun ada yang menggunakan nama Malahayati.

    Pelabuhan Malahayati di Krueng Aceh

    Sejarah telah mencatat beberapa pelaut wanita yang hebat di dunia ini, dan nama Laksamana Malahayati adalah salah satu diantaranya. Walau tidak banyak catatan sejarah mengenai dirinya tetapi namanya telah tercatat dalam sejarah Indonesia dengan tinta emas.

    - Disadur dari berbagai sumber


    Kisah Samson - Nabi Sam'un Al Ghozi

    Kisah Samson - Nabi Sam'un Al Ghozi

    Bila dalam kisah-kisah Yunani kita mengenal Hercules yang memiliki kekuatan yang luar biasa, maka dalam Kisah Islam ini kita juga mengenal Samson atau Sam'un yang juga memiliki kekuatan yang luar biasa dapat membengkokan besi dengan tangan kosong bahkan memiliki kekuatan untuk merobohkan gedung bedar seperti istana.

    Belajar Memaafkan dari Buya Hamka

    Belajar Memaafkan dari Buya Hamka

    Buya Hamka adalah salah satu ulama besar yang dimiliki bangsa Indonesia, walau beliau telah kembali ke haribaan Allah SWT. Tetapi jejak contoh dan tauladan beliau dalam beragama selalu diingat oleh kalangan umat Islam di Indonesia.

    Sahabat Rasulullah SAW - Sufyan Ats-Tsauri

    Sahabat Rauslullah SAW - Sufyan Ats-Tsauri


    Abu 'Abdullah Sofy an bin Sd'id ats-Tsauri lahir di Kufah pada tahun 97 HI715 M. Mula-mula ia belajar dari ayahnya sendiri, kemudian dari banyak orang-orang pandai di masa itu sehingga akhirnya ia mencapai keahlian yang tinggi di bidang Hadits dan teologi. Pada tahun 158 Hl715 M, ia menantang pejabat-pejabat pemerintahan sehingga ia terpaksa menyembunyikan diri di kota Mekkah.
     
    Proudly powered by Blogger Template by Creating Website
    Iwan Setiawan Blog Sitemap
    © www.iwansetiawan.com All Rights Reserved
    Biografi