Home » » Kisah Penjual Pisang dan Anaknya

Kisah Penjual Pisang dan Anaknya

http://www.iwansetiawan.com/2014/04/kisah-penjual-pisang-dan-anaknya.html

Kisah ini terjadi beberapa minggu yang lalu, tapi masih membekas dalam pikiranku. Kejadian hari itu membuatku sadar bahwa kita kadang kurang bersyukur dan suka mengeluh dengan kesulitan yang sebenarnya tidak terlalu besar. Kisah ini kuceritakan semoga kita bisa mengambil hikmah bahwa masih banyak orang di luar sana yang masih lebih menderita daripada kita tetapi mereka tetap berjuang dan bersyukur dengan apa yang sudah mereka miliki.

Malam itu sekitar setengah puluh malam saya dan dua orang tetangga komplek sedang ngobrol di gardu siskamling samping rumah. Banyak hal yang kami obrolkan, dari soal politik, olah raga sampe masalah warga komplek dibahas dengan lugas layaknya talk show di TVyang sedang marak. Ketika itu lewatlah seorang penjual pisang yang ditemani seorang bocah seumuran anak SD. "Pisang...pisang..." begitu teriaknya untuk menarik perhatian orang-orang, barangkali ada yang tertarik untuk membeli pisang yang dibawanya.

Agak heran, karena jarang atau bahkan baru kali ini kami melihat ada penjual pisang keliling mnejual dagangannya malam hari begini, dimana sudah banyak orang yang beristirahat duduk santai nonton TV bersama keluarganya. Terhenti sejenak obrolan kami mengamati si tukang pisang tersebut, muncul beberapa pertanyaan diantara kami, "Mengapa sudah malam begini masih ada saja tukang pisang keliling?" celetuk salah satu tetanggaku, "Kenapa bawa anak kecil segala?" tandas tetanggaku yang lain lagi ingin tahu. Saya juga memperhatikan dan bertanya-tanya melihat anak yang bersama penjual pisang selalu memegang keranjang pisang.

Akhirnya kami mencoba menegurnya, "Wah, malam-malam masih ada pisang, ya Mang?" tanyaku. "Iya pak, ada pisang raja dan pisang ambon, masih seger dan masak di pohon, pak." Sahut si tukang pisang. "Ini anak mamang?" tanya tetangga di sampingku."Iya pak, anak saya yang ke dua." jawabnya. "Kok malam-malam ikut jualan apa tidak belajar, mang?" tanya tetanggaku yang lain penasaran. "Sudah belajar pak tadi sore sebelum nganter bapak jualan." Kali ini anak itu yang menjawab. "Kok bapak malam-malam gini masih jualan bawa anak lagi, apa gak kasihan anak bapak kan besok pagi-pagi harus ke sekolah." Tanyaku. "Bapak saya buta, jadi terpaksa harus diantar kalau mau julan keliling pak." Sahut anak itu menjelaskan.

Kami begitu kaget mendengar penjelasan anak penjual pisang itu, bagaimana tidak, seorang penjual pisang buta mencari nafkah sampai malam keliling komplek ditemani anaknya yang masih kecil. "Bapak kalau pagi mangkal di dekat pasar, selepas ashar beliau keliling komplek pak, untuk menjual sisa daganganya". Timpal anak itu. Itu semua dilakukan demi menghidupi dua anak dan sang istri.

Karena merasa simpati kami membeli psiang dari penjual pisang buta tersebut. Dengan niat membantu, dua orang tetanggaku membeli pisang dengan melebihkan pembayaran dari harga yang ditawarkannya. Ketika si penjual memberikan kembalian uang tersebut, tetanggaku berkata "Sudah pak, itu kembaliannya buat bapak saja."  Tapi penjual itu menolak dengan halus sembari  berkata "Maaf pak saya jualan bukan pengemis, ini pak uangnya." Sahutnya. dia mengembalikan semua kelebihan uang kami yang sebenarnya sengaja kami berikan. Kemudian si penjual pisang permisi dan pergi bersama anaknya menjajakan daganganya sembari menuju pulang ke kampungnya.

Terbetik dalam sanubari kami masing-masing, masih ada orang seperti ini di dunia ini. Orang yang jelas-jelas membutuhkan uang, tapi tidak mau menerima pemberian demi harga diri dan prinsip yang begitu luhur, "Saya jualan bukan pengemis, pak" kata-kata itu masih terngiang-ngiang di telingaku.

Ada pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kisah tersebut yaitu kerja keras si penjual pisang walaupun matanya buta tetapi tetap berjuang demi hidup dan keluarganya. Berusaha keras dan tidak putus asa menghadapi kesulitannya. Sementara banyak orang  yang lebih sempurna tidak memiliki cacat banyak membuang waktu dengan bersantai-santai serta sering mengeluh bila menghadapi masalah. Semoga kisah ini bisa menjadi pelajara agar kita bisa lebih mensyukuri nikmat dan anugerah yang telah Tuhan berikan kepada kita.

Source : facebook.com

1 komentar:

Silahkan tulis komentar yang berhubungan dengan isi konten.

 
Proudly powered by Blogger Template by Creating Website
Iwan Setiawan Blog Sitemap
© www.iwansetiawan.com All Rights Reserved
Kisah Penjual Pisang dan Anaknya