Natron - Danau Unik di Tanzania
Posted by Iwan Setiawan
Posted on 11.12.13
with No comments
Tanzania adalah negara yang terletak di Afrika bagian Timur. Negara ini memiliki sebuah danau yang sangat tenang tapi juga merupakan termasuk lingkungan yang unik dan ekstrim di bumi. Bagaimana tidak? Suhu di danau Natron ini bisa naik ke 140°F (atau 60°C) dan alkalinitas-nya adalah antara pH 9 dan pH 10,5, hampir sama seperti basa amonia.
Hewan yang masuk ke lingkungan ini hampir bisa dipastikan akan terbakar kulit dan matanya bila tidak bisa beradaptasi dengannya. Di danau Natron ini juga menyimpan jenis ikan Nila tertentu yang telah berevolusi untuk bertahan hidup dalam lingkungan kaustik (lingkungan yang membakar akibat reaksi kimia).
Nama Danau Natron sendiri diambil dari kandungan mineral yang dimilikinya, yaitu mineral Natrium Karbonat Dekahidrat (sodium carbonate decahydrate) yang menyebabkan air begitu bersifat alkali. Mineral ini berasal dari aliran air mineral yang masuk ke danau dari bukit-bukit sekitarnya. Konon juga deposito natrium karbonat ini pernah digunakan dalam proses pembuatan mumi Mesir, sehingga tidak mengherankan kalau di sekitar danau Natron banyak ditemukan bangkai hewan yang sudah mati terawetkan dalam bentuk seperti patung yang utuh diam dan kaku.
Sementara, ahli ekologi di University of Leicester, David Harper mengatakan, jika di tempat lain bangkai hewan yang mati akan terurai dengan cepat, beda halnya di Danau Natron. "Saat mengering, garam akan membentuk lapisan kerak dan akan bertahan selamanya," kata Harper yang pernah mengunjungi Danau Natron empat kali.
Garam yang terkandung di Danau Natron tidak seperti garam masak yang dipanen dari laut. Melainkan kapur magmatik yang telah ditempa dalam bumi, keluar melalui aliran lava, dan disemburkan ke udara menjadi awan abu setinggi 10 mil.
Pelakunya adalah Gunung Ol Doinyo Lengai, sebuah gunung berapi berusia 1 juta tahun yang terletak di selatan Danau Natron.
Hannes Mattsson, seorang peneliti di Swiss Institute of Technology di Zurich mengatakan, gunung berapi lain biasanya memuntahkan silikat, namun Ol Doinyo Lengai adalah satu-satunya di planet ini yang menyemburkan "natrocarbonatite" -- yang kaya akan sodium, kalium karbonat, nyerereite dan gregoryite. Jauh lebih asin dari silikat.
Material abu vulkanik lalu dikumpulkan air hujan yang masuk ke danau. Itu menjelaskan mengapa hewan yang tercebur di dalamnya terlihat seperti telah jatuh dalam ember semen. Air danau juga mengalami lonjakan salinitas karenanya.
Beberapa media juga melaporkan, bahwa hewan sebenarnya tidak langsung mati dan langsung menjadi batu setelah terkena air danau. Bahkan air alkali Danau Natron mendukung ekosistem di sekitarnya seperti rawa-rawa garam, lahan basah air tawar, flamingo dan burung lahan basah lainnya, sejenis nila dan ganggang yang besar juga tumbuh menjadi makanan burung flamingo di sana.
Nick Brandt - seorang photographer alam liar asal London yang banyak mengambil gambar di Afrika - menggunakan bangkai-bangkai hewan di Danau Natron sebagai model dari serial fotografi terbarunya yang mengerikan. "Menemukan hewan-hewan ini terdampar di sepanjang tepian Danau Natron, saya pikir sangat luar biasa. Bayangkan, setiap detil, dari ujung lidah kelelawar, rambut-rambut kecil di wajahnya, seluruh tubuh elang pemakan ikan, diawetkan dengan sangat sempurna," kata Brandt seperti dimuat CBSNews.com, 3 Oktober 2013.
Menurut Brandt, tidak ada yang tahu pasti persis bagaimana hewan-hewan ini mati, tapi tampaknya sifat reflektif ekstrim permukaan danau membingungkan mereka, dan menyebabkan mereka jatuh ke ke danau.
Saat memotret bangkai binatang yang kini mirip patung itu, Brandt membuat mereka dalam posisi seakan masih hidup. Menaruh mereka di ranting pohon atau di atas air. "Aku menempatkan mereka dalam posisi 'hidup'. Seakan hidup lagi setelah mati," kata dia. Beberapa hasil karya Brandt yang menakjubkan tentang patung kapur hewan bisa kita lihat berikut ini.
Sebagian hasil karya Brandt kini dipamerkan di Hasted Kraeutler Gallery di New York dan akan dipublikasikan dalam buku fotografi barunya yang berjudul "Across The Ravaged Land" yang merupakan volume ketiga dan terakhir dalam trilogi buku Brandt yang mendokumentasikan kepunahan alam dan hewan di Afrika Timur.










0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar yang berhubungan dengan isi konten.